Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 26 Januari 2011

Dos and Don'ts of Salary Negotiation

Banyak orang yang bingung bagaimana cara yang benar dalam meminta kenaikan gaji pada atasan. Apa saja yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan? Berikut ini adalah Do and Don’t didalam meminta kenaikan gaji pada perusahaan.

DONT - Jangan bandingkan gaji Anda dengar sahabat yang bekerja di bidang dan jenis industri yang berbeda dengan Anda. Hal ini akan membuat Anda semakin iri dan semakin resah dengan apa yang Anda terima sekarang. Pada umumnya, lain bidang, lain industri akan memiliki tarif gaji yang berbeda-beda.

DO - Lakukan survey tingkat gaji di bidang Anda pada industri yang sama. Misalnya posisi Anda adalah supervisor di pabrik pembuatan packaging. Maka carilah informasi mengenai gaji karyawan tingkat supervisor yang juga di industri pembuatan packaging. Kontak teman-teman Anda di bidang yang sama di area yang sama juga. Jangan lupa, setiap regional memiliki standar gaji yang berlainan. Oleh karena, bila Anda bekerja di daerah Jember, jangan bandingkan dengan gaji orang yang bekerja di Semarang.

DO - Pertimbangkan seberapa tinggi kualitas kerja Anda. Orang yang memiliki kualitas kerja yang diatas rata-rata, biasanya tidak akan terlalu sulit untuk mendapat jawaban positif, saat meminta kenaikan gaji. Namun apabila kualitas kerja Anda standar, biasa-biasa saja dan bahkan pasaran ( artinya kualitas seperti ini mudah dijumpai dimana-mana ), maka jangan harap permohonan Anda bisa dikabulkan. Apalagi bagi yang kualitas kerjanya rendah.

DONT - Jangan bicarakan berapa uang yang Anda perlukan didalam negosiasi. Ketika Anda bernegosiasi dengan atasan, jangan pernah ungkapkan bahwa Anda perlu uang yang lebih banyak untuk anak sekolah, renovasi rumah, bayar hutang, dan segala tetek bengek lainnya. Manajemen tidak akan peduli dengan apa yang Anda perlukan, hanya pada apa yang bisa Anda jual lebih untuk mendapat lebih banyak.

DO - Bahas ”kontribusi apa lagi” yang bisa Anda jual pada perusahaan. Saat Anda mengajukan permohonan kenaikan gaji, bahaslah prestasi-prestasi yang telah Anda lakukan, serta hal-hal besar lain yang akan Anda lakukan. Presentasikan dengan meyakinkan, tantangan-tantangan yang Anda siap lakukan dikemudian hari. Misalnya, ”Pak, saya mengajukan diri untuk ambil tanggung jawab dalam proyek baru yang yang akan saya usulkan. Proyek in saya yakin pasti akan menguntungkan perusahaan. Apabila saya bisa buktikan saya mampu, bersediakah Bapak adjust salary saya?” Perusahaan tidak akan peduli berapa besar kebutuhan uang yang Anda perlukan, tetapi perusahaan peduli seberapa besar kualitas dan kontribusi yang bisa Anda sumbangkan pada perusahaan.

DONT - Jangan mengemis atau mengiba-iba. Didalam bernegosiasi gaji, jangan pakai jurus pengemis yang mengiba-iba. Perusahaan tidak akan tertarik dengan orang yang bermental pengemis. Dalam bernegosiasi, jangan pernah mengatas namakan anak sakit, Ibu sedang sakit-sakitan, sedang terlilit hutang atau alasan lainnya.

DO - Siapkan segala bukti yang menunjang bahwa Anda layak untuk dapat kenaikan gaji. Bila Anda mengatakan bahwa Anda layak dapat gaji yang lebih tinggi karena Anda sudah berprestasi, buktikan hal itu. Bawa catatan dan fakta lain yang akan meyakinkan atasan bahwa Anda memang diatas standar.

DONT – Jangan pernah ”menjual” masa kerja sebagai senjata naik gaji. Ingat, tidak peduli Anda sudah kerja 30 tahun atau 20 tahun atau 3 tahun, apabila Anda belum menunjukan kualitas kerja diatas rata-rata, perusahaan tidak akan peduli denagn permohonan Anda. Masalahnya, bukan berapa lama Anda sudah bekerja, tetapi sudah seberapa banyak Anda sudah memberi keuntungan kepada perusahaan.

DO - Siapkan skenario positif bila permohonan Anda ditolak. Sebelum Anda pergi menghadap atasan untuk permohonan kenaikan gaji, pikirkan terlebih dahulu beberapa hal dibawah ini :
  1. Apa yang akan anda lakukan bila ia menolak mentah-mentah permohonan Anda ? apakah Anda akan ”ngotot” meminta walau dengan argumen sekalipun? Atau Anda bersedia untuk menunggu bicarakan kembali pada waktu kali lain pada saat yang lebih tepat?
  2. Apa yang Anda akan lakukan bila ia menjawab bahwa kualitas kerja Anda masih dibawah standar atau biasa-biasa saja? Apakah Anda akan menolak baik-baik dengan cara halus atau cara dengan anda protes? Atau Anda akan minta masukan lebih jauh, dalam hal apa saja Anda harus memperbaiki kualitas kerja Anda?

    Tidak ada komentar: